Seusai malam

Saat realita membungkus remang kebisuan, aku tersenyum getir mencoba menyelia bahagia

Kau yang kian berdiri angkuh menemani, menghisap penuh asap asap pertaruhan yang membunuhmu

Lelatu berguguran bak salju
Aku sekarat dibawahnya
Menungguimu menikmati tiap tiap percik yang memupus terik di dada

Mungkin kau jelmaan buku buku tua yang lembar lembarnya menguning tak terbaca
Aku menduga relungmu mati
Atau semacam tak berdenyut nadi
Atau (lagi-lagi) hanya soal babak repetisi yang tak sungkan dan tak tahu diri

Surabaya, 25 agustus 2014

Aku berusaha menghentikan tubuhku yang meluncur deras. Tetapi hujan adalah basah yang tidak bisa dicegah.

— Lan Fang

Ada kurun waktu yang tak terengkuh. Bahkan untuk jemari yang menjelma bunga bunga semi bunga bunga semu.

Pesanku pada waktu

Karena kita tiada bercita cita saling pergi
Maka tinggallah sepi
Menetap menemani
Di tiap seduh kopi pagi
Di tiap pekat pahitnya
Di pangkal lidah getirnya bermuara

Dan saat kita tersedu sedan bahagia,
Kau maklumi pahitku
Getirku yang menyiksa kau sesap habis sampai sepah
Sampai lidahmu sebah mati rasa
Sampai degup nadimu sepi pula
Setelahnya, kita merebah menengadah
Berapatis ria bersama

Lalu aku mulai berkilah tentang luas antariksa yang memenjara
Dan masa hampa sesudahnya
Yang mengungkung
Membelenggu nasib dan kisah kisah

Kau serta merta menampik lembut lewat jemarimu yang menggapai desau angin
Yang dari sayupnya timbul suara suara

"Ah, sudahlah. Mari dinikmati saja. Dan tentang haru biru yang berjejal minta disapa, usahlah risau. Aku sudah pesan tempat pada waktu jauh jauh hari sebelummu."

Begitulah ungkapmu kala itu.

Surabaya, 22 agustus 2014

Selalu ada aku di tiap cangkir kopi, awan putih, langit biru, dan resah senja mereka. Tanyamu, “Mengapa?”
Pikirku, “Kau hanya mengada-ada.”

Semua sudah hilang.. dan berholiday tak pernah usai denganmu..

Mari merebah. Ber-apatis ria bersama.

— Sore & Me

Bagaimana kalau kita telanjang saja. Biar kita sama sama dirajam massa. Mati dihakimi. Ah, tidak tidak, aku lupa kalau ternyata cuma aku yang terganggu jiwanya.

— Lonewolf

Old and grey
#explorejogja #borobudur #temple #heritage #ancient #architecture #bw #bwshots #blackandwhite #monochrome

Vakansi

Tiada perlu bersemedi
Dunia terlampau tua untuk omong kosong pertapa
Sudah bukan tempatnya sihir dan jampi jampi
Tak ada ruang untuk perapal mantra dan kartu kartu bergambar simbol magis
Segalanya sesak terhimpit visualisasi televisi
Dan manusia manusia kita tergelak mabuk di tengahnya

Mereka mereka konsumen aktif selayang pandang
Produk selebaran dan papan iklan
Manekin berjalan

Tak ada semesta yang rahasia
Mereka di permukaan mudah terbaca
Tak perlu merujuk kitab kitab kuno untuk membujuk rayu
Cukup tayangan 3 menit siap saji yang kental aroma kekinian

Oh sungguh manusia hari ini
Otak dan jiwa tinggal aksesori
Cuma pelengkap hantu sejarah yang dikremasi sendiri
Melekat tiada guna, dilarung pun sama adanya

Mungkin sudah waktunya seluruh kita bervakansi
Menanggal lepas serat serat eksistensi
Bertebaran terhanyut bebas
Di ruas langit tanpa identitas

Surabaya, 19 agustus 2014

newyorker:

In an age when we endlessly post and read about marriage, divorce, and illness on social media, what does it mean to write a memoir? Dani Shapiro reflects on her own experience:

“I’m grateful that I wasn’t a young writer with a blog or a massive following on social media. The years of silence were deepening ones. My story burrowed its way deeper and deeper into my being until it became a story I could turn inside out, hold to the light like a prism, craft into a story that was bigger than its small, sorry details.”

Illustration by Sophia Foster-Dimino

Yep. Silence indeed deepening oneself.

(Source: newyorker.com)

Fixed. theme by Andrew McCarthy